Sunday, March 25, 2012

KONSTANTINOPEL (ISTANBUL)

Kenapa Turki? 
Itulah pertanyaan yang ditanyakan kepada kami bila ke Turki baru-baru ini. Bukan keinginan kami hanya untuk melihat Hagia Sophia, Masjid Biru, Istana Topkapi, Selat Tanduk Emas, Selat Bhosporus, City Wall (Kota Konstantinopel) , namun sebenarnya lebih dari itu.
Masjid Biru (luaran)
Dalam Masjid Biru

Keindahan kubah masjid yang tiada taranya

Hagia Sophia (sebelumnya gereja, kemudian masjid dan sekarang muzium)
Istana Topkapi (luaran)
Replika Istana Topkapi secara kesuruhannya.

Pemandangan Teluk Bhosporus yang diambil dari beranda Istana Topkapi yang juga boleh nampak City Wall
Keinginan kaum Muslim menguasai Konstantinopel lebih mulia dari hanya sekadar penghargaan, kekuasaan apalagi material, Konstantinopel lebih dari itu. Ia adalah sebuah kota yang dijanjikan kepada kaum Muslim oleh Rasulullah saw. 

Berkata Abdullah bin Amru bin Ash: "bahawa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah untuk menulis, lalu Rasulullah saw ditanya tentang kota manakah yang akan futuh (dibebaskan) terlebih dahulu, Konstantinopel atau Rome? Maka Rasulullah saw menjawab, "Kota Heraklius terlebih dahulu', yakni Konstantinopel. (HR Ahmad) 

Oleh kerana itu, ekspedisi Sultan Mehmed 2 (Muhammad Al-Fatih) bukanlah ekspedisi yang biasa, ekspedisi yag dipimpinnya pada 1453M adalah ekspedisi kerinduan selama 825 tahun. Ekspedisi ini adalah puncak dari kekerasan niatnya atas Konstantinopel, nama yang telah memenuhi benaknya selama 23 tahun lamanya. Nama yang juga menghantarkannya menjadi panlima terbaik yang sempat diisyaratkan oleh Rasulullah saw dari lisannya.

"Sungguh, Konstantinopel akan ditaklukkan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukannya". (HR Ahmad)

Bagi kaum Muslim, nama Konstantinopel bererti kemuliaan yang telah dijanjikan oleh Allah dan Rasulnya dalam bisyarah mereka. Ramai dari kaum Muslim akan menyiapkan iwa dan harta mereka untuk menjadi pasukan yang membebaskannya. Mental kaum Muslim pun telah dari awal dididik untuk menjadi seorang kesatria yang mempunyai tugas untuk mengelola dunia dan seisinya. Pada awal pembentukan para sahabat, Rasulullah sentiasa mengarahkan visi mereka menjadi visi global, iaitu pembebasan seluruh dunia. Bagi kaum Muslim, Konstantinopel adalah penantian 825 tahun dan para syuhada telah menyirami tanah itu dengan darah suci mereka untuk menumbuhkan kemenangan di tanah itu, maka tidak hairan apabila janji Allah dan Rasul ini menjadi suatu sumber energi yang tidak terbatas, menyalakan api pengorbanan dan jihad fi sabilillah dallam setiap masa dan setiap kepimpinan. 

Konstantinopel sendiri bukanlah kota yang lemah. Kedudukannya sebagai ibukota Byzantium, pewaris satu-satunya imperium Romawi menjadikannya memiliki semua teknologi perang dan kejayaan sistem militer Romawi yang sempat memimpin dunia, wilayah lautnya sangat luas dan armada lautnya menjadi yang terbaik pada masanya. Tembok Konstantinopel mempunyai prestasi selama 1123 tahun menahan 23 serangan yang ditujukan kepadanya. Hanya sekali saja tembok bahagian lautnya pernah ditembus oleh pasuskan salib pada 1204, selain itu semua serangan berjaya dipatahkan oleh pasukan pertahannya. Wajarlah penduduk dan pasukan Konstantinopel merasa berada di atas angin ketika Sultan Mehmed 2 mengepung Konstantinopel. 

Beginilah sedikit mukaddimah dari buku yang saya baca setelah kembali dari Istanbul yang bila membacanya, membuatkan saya faham bahawa janji Allah adalah benar dan setelah menghayati buku ini, seperti saya juga berada bersama dalam penaklukan Kota Konstantinopel itu. Dan insyaallah, saya akan kembali lagi ke Kota Konstantinopel (but not in winter). Spring perhap!


0 comments:

Post a Comment

Terima kasih kerana meninggalkan komen anda samada negatif @ positif. Sila berikan nama anda agar ukhwah terus terjalin.