Showing posts with label bisnes syariah. Show all posts
Showing posts with label bisnes syariah. Show all posts

Tuesday, August 9, 2011

RAMADHAN DAN BISNES SYARIAH



Artikel ini saya tujukan kepada pengusaha-pengusaha Muslim tidak kira apa yang diusahakannya. Mudah-mudahan artikel ini dapat dijadikan panduan dan teladan dalam menjalankan bisnes samada di bulan Ramadhan dan bulan-bulan seterusnya.  . 

RAMADHAN: Momentum Perubahan Menuju Bisnes Penuh Berkat dan Barakah 

Alhamdulillah, kita telah memasuki sepertiga bulan ramadhan 1432H. Di dalamnya setiap Muslim – tentu termasuk pengusaha Muslim di dalamnya dituntut untuk berkorban dengan menahan rasa lapar, dahaga dan sejumlah amal lainnya demi meraih darjah takwa (2: 183). Takwa adalah puncak hikmah dari ibadah shaum (puasa) dalam bulan Ramadhan.
Menurut Al-Jazairi, frasa “agar kalian bertakkwa” bermakna: agar dengan shaum itu Allah SWT mempersiapkan kalian untuk boleh menjalankan semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya (Al-Jazairi, 1/80). Bahasa sederhananya, dengan shaum itu kita difahamkan, diingatkan dan disedarkan bahawa bukan harta yang diinginkan Deen kita, tetapi ketaatan kita sepenuhnya pada aturanNya!
Bagi pengusaha, Ramahdan sudah semestinya menjadi momentum perubahan menuju bisnes yang sesuai dengan aturan Allah SWT. Kita biasa menyebutnya sebagai bisnes yang penuh ‘berkat’ dan ‘barakah’. Berkat bermakna bisnes kita menghasilkan keuntungan yang terus tumbuh dan ada kesinambungannya. Sementara ‘barakah’ adalah mendapat keredhaan Allah.
Setidaknya ada tiga hal yang dikukuhkan dan diingatkan Ramadhan pada kita, pengusaha Muslim

1) Ramadhan Mengukuhkan Orientasi Akhirat Pada Bisnes Kita

Allah berfirman kepada malaikat yang diserahi urusan rezeki bani Adam: “Hamba manapun yang kalian dapati cita-citanya hanya satu, iaitu semata-mata untuk kehidupan akhirat, jaminlah rezekinya di langit dan di bumi; dan hamba manapun yang kalian dapati mencari rezekinya dengan jujur kerana berhati-hati dalam mencari keadilan, berilah ia rezeki yang baik dan mudahkanlah ia; dan jika ia telah melampaui batas kepada selain itu, biarkanlah ia sendiri mengusaha apa yang dikehendakinya. Kemudian ia tidak akan mencapai lebih dari apa yang Aku tetapkan untuknya,” (HR: Abu Na’im dari Abu Hurairah ra)
Hadis ini merupakan janji Allah kepada orang-orang yang selalu berorientasi akhirat dalam setiap perbuatannya.

2) Ramadhan Mengingatkan Kita Bahawa Hanya Nafkah Yang Halal Lagi Baik (Halalan Toyyibah) Yang Membawa Keberkatan Dan Nikmat Hidup

Iman Muslim meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Hurairah, bahawasanya Rasulullah saw bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah tidak akan menerima sesuatu kecuali yang baik (thoyyib) dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum Mukmin sebagaimana halnya Ia memerintahkan para Rasul. Kemudian, Ia berfirman, “Wahai para Rasul, makanlah dari rezeki yag baik-baik, dan berbuat baiklah kalian. Sesungguhnya Aku Mengetahui apa yang engkau ketahui.” Selanjutnya beliau bercerita tentang seorang lelaki yang berada dalam perjalanan yang sangat panjang, hingga pakaiannya lusuh dan berdebu. Lelaki itu lantas menadahkan dua tangannya ke atas langit dan berdoa, “Ya Tuhanku, Ya Tuhanku....”, sementara itu makanan yang dimakannya adalah haram, minuman yang diminumnya adalah haram, dan pakaian yang dikenakannya adalah haram; dan ia diberi makanan dengan makanan-makanan yang haram. Lantas, bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR Muslim)
Al Qadliy berkata, “hadis ini merupakan salah satu pilar agama Islam dan tonggak dari hukum-hukum Islam. Ada 40 hadis yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari hadis ini. Di dalam hadis ini ada perintah kepada kaum Muslim untuk berinfak dengan rezeki yang halal serta larangan untuk berinfak dengan rezeki yang haram.  Hadis ini juga menerangkan bahawa minuman, makanan, pakaian dll harus halal dan jauh dari syubhat; dan siapa saja yang berdoa, hendaklah ia memenuhi syarat-syarat tersebut dan menjauhi minuman, makanan dan pakaian haram.” (Imam Nawawi, syarah shahih Muslim, Hadis No 1686).

3) Ramadhan mengingatkan kita bahawa bisnes yang halal dan thayyib memuliakan kita di dunia dan akhirat.

Sesungguhnya, dunia itu diperuntukkan kepada 4 orang:  
1) Seorang hamba yang diberi harta dan ilmu oleh Allah SWT dan menghubungkan siraturrahim dan dia mengetahui bahawa ada hak Allah di dalam hartanya. Ini adalah seutama-utama kedudukan.
2)  Seorang hamba yang diberi ilmu oleh Allah namun tidak diberi harta, kemudian dia berniat seraya berkata, ‘ Seandainya aku punya harta, sungguh aku akan beramal sebagaimana si fulan (yang kaya). Dengan niatnya itu, maka pahala keduanya adalah sama.
cc  Seorang hamba yang tidak diberi ilmu, namun hanya diberi harta oleh Allah. Lalu, dia membelanjakan hartanya tanpa dengan pengetahuan dan tidak dijadikan sebagai wasilah untuk bertakwa kepada Allah SWT dan menyambung silaturrahim, dan dia juga tidak tahu bahawa di dalamnya ada hak Allah SWT, maka ini adalah serendah-rendahnya kedudukan.
4)     Seorang hamba yang tidak diberi harta dan ilmu oleh Allah SWT dan ia berkata,  ‘Seandainya saya memiliki harta, maka saya akan beramal sebagaimana sifulan (yang ke 3 tadi). Maka dosa keduanya adalah sama. (Hadis riwayat Al-Tirmidzi)

Makin jelas bagi pengusaha yang ingin meraih ‘berkat dan barakah’ bahawa Islam telah memotivasi umatnya untuk bekerja - tentu saja termasuk berbisnes – dengan serius, dengan tetap memperhatikan dan melaksanakan ketentuan syariat Allah SWT dan kaedah sebab akibat atas segala usahanya. Halal dan baik lakukan, haram lagi laknat tinggalkan. Allah pun akan membalasnya dengan “reward” kemudahan rezeki dan kemudahan urusan bisnes kita. Subhanallah, Ramadhan inilah momentum perubahan bisnes kita. Insyaallah.  

Sunday, February 20, 2011

AGAR BEKERJA MENUAI BERKAH

Bekerja merupakan salah satu ibadah yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Disamping untuk memperolehi nafkah yang halal dan baik, bekerja juga merupakan perwujudan hubungan ta'awuniyyah (tolong menolong) di antara sesama muslim.
 
Alhamdulillah, cuti hujung minggu ini saya dapat habiskan satu lagi buku bertajuk Agar Bekerja Menuai Berkah ~ Bekerja di Bawah Naungan Sunnah Rasullullah. Penulis: Syamsuddin Ramadlan al-Nawiy. 
Bukunya tak tebal, 120 ms sahaja dan kalau tekun, 3 jam non-stop dah boleh habis. Antara daftar isi:

Bab 1: Ketentuan Dalam Hal Nafkah
Hukum menafkahi keluarga dan orang yang berada di bawah tanggungan
Golongan yang wajib diberi nafkah
~ Anak dan isteri
~ Wanita yang ditalak bain dalam keadaan hamil
~ Dua orang tua
~ Anak-anak kecil dan tidak mampu
~ Pembantu yang menjadi kewajipan tuannya
~ Binatang peliharaan
Gugurnya kewajipan memberi nafkah
Syarat-syarat menerima nafkahIsteri 
Isteri islam, suami kafir
Pendapat mazhab
Kadar nafkah yang diwajibkan
Peranan negara dalam menjamin nafkah rakyatnya
Larangan menelantarkan orang yang wajib dinafkahi

Bab 2 ~ NAFKAH YANG HALAL DAN BAIK
Menafkahi keluarga dengan nafkah yang halal dan baik
Nafkah dari hasil usaha sendiri
Larangan menjadi peminta-minta
Keadaan yang membolehkan seseorang yang meminta-minta

Bab 3 ~ BEKERJA DAN KEUTAMAANYA
Islam memotivasi untuk bekerja
Keutamaan bekerja
~ Bekerja untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan diri
~ Bekerja untuk menutupi dosa
~ Bertemu Allah dengan wajah berseri-seri
~ Memudahkan terkabulnya doa

Bab 4 ~ ORIENTASI BEKERJA
Bekerja dengan orientasi akhirat
Perbuatan yang berorientasi akhirat

Bab 5 ~ ADAB-ADAB BEKERJA
Amanah dalam bekerja
Tidak berlaku curang atau khianat
Tidak merampas hak orang lain
Tidak menipu dan berdusta
Tidak besumpah palsu
Tidak mengambil suap @ rasuah
Tidak mengeksploitasi kecantikan dan ketampanan
Tidak menghibah
Tidak berkhalwat dan bertabarruj
Tidak memata-matai

Bab 6 ~ TIPS DARI RASULLULLAH UNTUK KELUAR DARI KESULITAN HIDUP
Mengadu dan berharap hanya kepada Allah swt
Bertakwa kepada Allah swt
Memperbanyak istighfar kepada Allah
Sabar dan memperbanyak membaca La Haula wa laa Quwwata Illa Billahi
Beribadah sepenuhnya kepada Allah swt
Tawakal kepada Allah
Gemar bersedekah dan memudahkan urusan orang lain.

SINOPSIS
Di tengah kehidupan yang materialistik-kapitalistik, rasa-rasanya sangatlah sulit bagi seorang muslim untuk mendapatkan penghasilan dan nafkah yang baik. Pasalnya, hampir semua pekerjaan telah tercemar dengan praktik-praktik yang diharamkan oleh Allah swt. Rasuah, riba, manipulasi, ghibah, memata-matai dan sebagainya telah menjadi semacam budaya kerja yang sangat sulit untuk dihindari. Kerja tidak lagi dipandang sebagai ibadah yang mesti mengikuti ketentuan halal dan haram. Akan tetapi, kerja hanya dipandang sebagai cara untuk memperolehi penghasilan dan harta sebanyak-banyaknya. Akibatnya, prinsip-prinsip syariat diketepikan, bahkan dibuang jauh-jauh demi apa yang dinamakan "profesionalism" dan capai-capaian material. Padahal, nafkah yang halal dan baik merupakan kunci diterima atau tidaknya ibadah kita di sisi Allah swt.
Betapa banyak orang menjalankan ibadah kepada Allah swt namun dengan pembiayaan yang haram dan tidak baik. Mereka juga terus berdoa memohon kepada Allah swt dengan berbagai macam permintaan dan harapan, sementara itu pakaian yang mereka kenakan, makanan yang mereka makan berasal dari penghasilan haram, bagaimana doanya boleh diterima!
Insyaallah, buku ini akan memberikan panduan praktis agar kita benar-benar mendapat penghasilan yang halal dan baik dan memperolehi kehidupan yang penuh keberkatan. Lebih dari itu, buku ini merupakan rujukan berharga yang patut dimiliki oleh setiap muslim yang mendambakan keberkatan dan kebahagiaan hidup hakiki. 

Kepada yang berminat untuk memiliki buku ini, boleh hubungi saya.